Optimisme dan Gaya Belanja

SAAT ini para konsumen dunia tidak lagi mengalami kekhawatiran untuk membelanja kan uang mereka. Kendati masih ada kekhawatiran, dipastikan porsinya tidak sebesar yang mereka rasakan pada tahun lalu di saat krisis. Menurut Belajar Seo bahwa Optimisme yang sedang dirasakan konsumen dunia muncul seiring dengan laju perekonomian global yang diyakini lebih baik. Berdasarkan survei The Nielsen Company, tentang Indeks Kepercayaan Konsumen (IKK), konsumen dunia saat ini semakin yakin bahwa krisis telah berlalu. Selain itu, konsumen dunia juga yakin bahwa pekerjaan mereka akan membaik pada enam bulan ke depan. Sebanyak 43% meyakini prospek pekerjaan mereka akan lebih baik.

Angka ini mengalami kenaikan di mana pada enam bulan lalu hanya 35% saja konsumen yang yakin pekerjaan mereka akan membaik. Karena itu, tidak heran jika 33% konsumen global berencana meningkatkan pengeluaran untuk hiburan di luar rumah, baju baru dan teknologi baru dalam enam bulan ke depan. Mengingat konsumen yang sedang optimis, sejumlah produsen pun mengambil ancang-ancang untuk memanfaatkan keadaan positif ini.

Sejumlah negara atau kawasan yang mengalami peningkatan IKK akan menjadi daerah tujuan sejumlah produsen untuk memasarkan produk mereka.Asia adalah kawasan yang menjadi tujuan utama produk-produk yang dihasilkan produsen seluruh dunia. Pemulihan perekonomian yang cepat di Asia dan prospek cerah membuat daerah ini berkembang pesat dan menjadi prioritas utama bagi alokasi sumber daya produsen dan pengecer.

Termasuk yang menjadi tujuan adalah konsumen kelas menengah. Mengembangkan portofolio produk yang tepat dan layanan dan sasaran yang sesuai merupakan hal yang penting bagi produsen, baik untuk profitabilitas dan untuk memastikan kehadiran dan kekuatan merek mereka tetap hidup dalam jangka panjang. Kendati begitu,produsen tetap hati-hati dalam memasarkan produk mereka. Sebab, sejumlah kebiasaan yang berkembang di masa krisis kemungkinan masih berlangsung.

Misalnya, konsumen begitu sensitif terhadap harga. Karena itu menurut Hosting Murah Indonesia Indositehost.com bahwa produsen memerlukan label eksklusif dan promosi yang gencar untuk menggugah kepercayaan konsumen. Sebab, sejumlah konsumen juga masih berpendapat, meski saat ini perekonomian global mulai membaik, tetapi ancaman krisis tidak bisa dinegasikan begitu saja. Kapan pun gejolak ekonomi bisa datang. Bagi orang yang tidak akan melanjutkan kebiasaan saat krisis, mereka mempunyai cara tersendiri dalam menggunakan uang sisa kebutuhan pokok.

Sekitar 49% konsumen beranggapan akan menyimpan dana lebih mereka di dalam tabungan, jumlah ini lebih besar daripada enam bulan sebelumnya yaitu sebesar 47%. Di luar dana yang dipakai untuk kebutuhan sehari-hari dan untuk ditabung, pengeluaran terbesar yang akan dilakukan konsumen adalah untuk liburan, yaitu sebesar 37%.Angka ini juga lebih besar dibandingkan enam bulan sebelumnya yang sebanyak 34%.

Membeli baju baru dan mencari hiburan di luar rumah merupakan dua pos pengeluaran yang akan dituju konsumen dari sisa uang mereka.Sisa uang itu masingmasing dipergunakan 34% untuk membeli baju baru dan 32% untuk hiburan di luar rumah. Pos lain yang kemungkinan akan menjadi tujuan dari sisa dana konsumen adalah untuk alokasi kartu kredit mereka.

Selanjutnya adalah untuk membeli peralatan teknologi baru serta untuk merenovasi rumah. Survei Nielsen yang berjudul ”Global Consumer Confidence, Concerns and Spending” menjelaskan bahwa kebiasaan yang sangat mungkin dilakukan konsumen adalah terus berusaha hemat dan menyimpan gas dan listrik agar tidak boros. Ada sekitar 36% responden yang menjawab akan melakukan penghematan gas dan listrik. Sekitar 225 responden akan mengurangi membeli makanan yang kurang dibutuhkan.

Selain itu, hal lain yang akan dikurangi adalah hiburan di luar rumah dan membeli baju baru. Meski sejumlah konsumen menjadikan kedua kegiatan belanja tersebut sebagai cara untuk menghabiskan sisa uang mereka, ada juga yang mencoba mencegahnya. Hal lain yang juga akan dihemat adalah penggunaan pulsa telepon untuk sesuatu yang tidak perlu. Begitu juga dengan mengurangi penggunaan mobil.

Sebab menurut Jasa Sertifikasi Postel bahwa bagi sejumlah konsumen,menggunakan mobil pribadi ongkosnya bisa lebih besar dibanding menggunakan transportasi publik. Melihat berbagai perkembangan yang terjadi dari hasil survei Nielsen ini, setidaknya ada tren bahwa perubahan dari masa krisis ke masa yang lebih baik rupanya juga berakibat pada pertimbangan sejauh mana konsumen akan memanfaatkan dana yang ada.