Peluru di Istana

JUMANTA belum juga tidur selarut ini. Malam terasa ganjil bagi dirinya. Di atas pohon nangka, seekor burung hitam tak henti-hentinya menjerit. Padahal Jumanta harus bangun lebih pagi, menurut informasi yang di dapatkan Type Approval Indonesia Memang Paling Top melalui mesin pencari google. Ruas-ruas jalan harus disapu.Tidak boleh ada sampah secuil pun. Bukankah besok akan ada tim penilai Piala Adipura dari Kementerian Lingkungan Hidup? O, tentu lelaki berumur lima puluh tahun itu tidak akan lupa dengan jadwalnya, termasuk impian Wali Kota yang ingin meraih Piala Adipura.Risikonya,sangat besar jika Jumanta terlambat bangun dan tidak sempat membersihkan ruasruas jalan.

Jumanta jangan bermimpi masih bisa bekerja sebagai tukang sapu dengan upah Rp40 ribu per hari. Untuk membuang resah, Jumanta menyeduh kopi di dapur yang bersatu dengan ruang tidurnya. Dibawanya kopi itu ke teras rumah. Lalu duduk di kursi yang sudah reot. Menyalakan korek api dan menyulut sebatang rokok di bibirnya.

Asap rokok mengepul ke wajahnya. Jumanta menyeruput kopi dan memandang gelap, seperti menerjemahkan keganjilan malam ini. Pikirannya menerawang pada sore tadi di mana ratusan tukang sapu dikumpulkan di alun-alun. Dengan menggunakan pengeras suara, Kepala Dinas Kebersihan berpesan. “Ingat pesan Pak Wali. Besok itu penilaian yang terakhir dari Kementrian Lingkungan Hidup. Dan sekedar mengingatkan saja bahwa postingan sebelumnya di blog Standardisasi's Blog berjudul Krisis Israel-AS Kian Buruk.

Bersihkan sampah-sampah yang ada di jalan, trotoar, selokan, toko-toko,dan pasar-pasar. Kota ini harus dapat Piala Adipura. Kalau masih ada sampah atau puntung rokok sekalipun, kalian saya pecat!” Dada Jumanta seperti kena tonjok, mendengar kalimat itu.Perasaannya menjadi kacau. Teringat istrinya dan dua anaknya di kampung. Sudah lebih dari 25 tahun,Jumanta belum memberikan kesenangan atau kebahagiaan kepada anak-anak dan istrinya.

Jumanta memandang kontrakannya yang berdinding bilik dan sudah mulai bolong-bolong serta lapuk karena sering terkena air hujan. Rumah kontrakan berlantai tanah itu juga nyaris rubuh. Air mata Jumanta jatuh.Malam ini terasa begitu sedih. “Jum! Jumanta! Jumanta!” Jumanta terkejut mendengar namanya dipanggil.Namun, pikirannya segera menepis.

Baginya, malam-malam seperti ini tidak mungkin ada orang yang memanggil- manggil dirinya. “Jumanta! Jum! Jumanta!” Panggilan itu terdengar lagi, dan kali ini suaranya semakin jelas. Bulu kuduk Jumanta mulai meriapriap. Tangan dan dengkulnya bergetar menahan takut. Ini adalah pengalaman yang pertama.Sebab, sejak mengontrak di gubuk ini selama lebih dari 15 tahun, baru kali ini ada suara yang memanggilmanggil dirinya di tengah malam.

Buru-buru Jumanta bangkit,lalu meninggalkan teras rumah yang mendadak seram. Lalu membuka pintu. Namun, sebelum memasuki kontrakannya, suara itu terdengar kembali. Kali ini lebih keras. “Jumanta!” Lelaki itu menahan langkahnya. Segelas kopi di tangan kanannya jatuh seketika. Jumanta mencoba memberanikan diri menengok ke arah suara. “Siapa kau? Jangan sembunyi!” “Aku di sini Jumanta!” Jumanta kaget.

Ternyata suara itu datang dari sapu lidi yang disandarkan di pojok rumahnya. Sapu itu biasa digunakan membersihkan ruas-ruas jalan di kota.Jumanta memandang lekat sapu lidi, kemudian menghampirinya dengan perasaan tertekan. Diangkatnya gagang sapu tinggi-tinggi dengan jari-jarinya tangannya yang keriput dan kasar.Namun, tak ada siapa- siapa. Tidak mungkin sapu ini bisa bicara,pikirnya. “Aku yang bicara, Jum!” Jumanta kembali kaget. Lalu memberanikan bicara.

“Kau bisa bicara? Sejak kapan? Bukankah kau tak punya mulut?” “Ah, itu tidak penting. Yang jelas,besok pagi aku tidak mau menyapu jalan lagi. Titik!” Jumanta kembali terkejut. “Tidak. Tidak bisa. Besok itu akan ada penilaian Adipura dari Kementerian Lingkungan Hidup. Ratusan tukang sapu harus turun ke jalan lebih pagi dari biasanya. Jalan-jalan harus sudah bersih. Tidak boleh ada sampah sedikit pun.

Kalau tidak kota ini tidak akan mendapat Piala Adipura.” “Ya, aku mengerti. Tapi percayalah padaku.Besok pagi kau tidak perlu bekerja.Sebab,seluruh jalan di kota ini sudah bersih. Kau tidak perlu bertanya siapa yang membersihkannya. Jadi besok pagi kita ke Istana Presiden saja. Aku ingin membersihkan seluruh halamannya yang indah, termasuk juga di dalam istananya.”

Jumanta tertegun. Pukul empat pagi Jumanta bangun. Dikenakannya seragam kuning- kuning.Di batang sepeda tuanya, Jumanta mengikatkan sapu lidinya. Tak lupa dibawanya sebotol air dan sedikit nasi dengan ikan asin untuk makan pagi.Namun ketika keluar, Jumanta terkejut. Ternyata sudah ada ratusan tukang sapu yang menunggu. “Selamat pagi Pak Jum.

Kami sudah siap menyapu Istana Presiden!” kata para tukang sapu serentak. “Ah, jangan main-main. Kata siapa kita akan ke Istana Presiden?” tanya Jumanta,keheranan. Seorang tukang sapu berkata, “Kami semalaman mendapat bisikan gaib dari sapuku ini, bahwa pagi ini tidak usah menyapu ruasruas jalan, akan, tetapi menyapu Istana Presiden saja.Wah, pasti menyenangkan bisa bertemu Presiden kita yang gagah.”

“Betul Pak Jumanta!” para tukang sapu menjawab serentak. “O, sapu saya juga semalaman berbicara,seperti itu kepada saya,” kata yang lain sambil memegang sapunya tinggi-tinggi. Jumanta kemudian menerangkan tidak mudah memasuki Istana Presiden. Orang berpangkat saja harus melalui prosedur yang sangat sulit. Apalagi kita yang hanya sebagai tukang sapu.

Istana Presiden tidak hanya dikawal oleh anjing- anjing galak yang terlatih,tapi juga oleh puluhan tentara dan polisi, serta para penembak jitu. Para Tukang Sapu tersenyum. Tak peduli. Sambil memegang setang sepeda, seorang tukang sapu yang lain berbicara dengan lantang, “Menurut bisikan sapu saya juga tadi malam, pagi ini akan ada keajaiban yang luar biasa, sekaligus keberkahan buat kita semua.

Yakni seluruh ruas-ruas jalan di kota akan bersih, seperti lantai-lantai mal. Tidak hanya di ruas jalan. Tong-tong sampah juga sudah mendadak bersih. Sapu yang dimiliki kita masingmasing juga sudah banyak jasanya pada kita. Mereka sudah memberi nafkah. Tinggal sekarang kita turuti perintahnya yang ingin menyapu Istana Presiden.” “Betul Pak Jumanta! Betul! Istana Presiden menurut sapu saya sudah penuh dengan sampah!” jawab yang lain,meyakinkan.

Jumanta tak bisa menolak lagi. Para tukang sapu kemudian mengayuh sepedanya dengan gembira, kencang seperti para pembalap. Mereka menerabas pagi yang masih berkabut dan berembun. Sepanjang jalan juga Jumanta terkagum- kagum, ternyata benar ruasruas jalan sudah bersih. Tidak hanya jalan,juga tempat-tempat sampah di pinggir jalan. “Ah, siapa yang membersihkan jalan dan tempat-tempat sampah itu? Ke mana sampah-sampah itu diangkut?”tanyanya dalam hati.

Hanya dalam waktu hitungan menit, ratusan tukang sapu sudah tiba di Istana Presiden. Entah mengapa kali ini semangat dan tenaga mereka mendadak berlipat-lipat mengayuh sepeda. Mungkin karena ingin segera membersihkan Istana Presiden. Mereka menyandarkan sepedanya pada pagarpagar istana yang dicat putih. Lalu segera menyapu ruas-ruas jalan di depan istana tersebut.

Presiden dan istrinya yang tengah senam pagi di halaman istana terkejut. Para penjaga berloncatan dari dalam pos keamanan seperti ninja, sambil mengacungkan senjata laras panjang dan pendek. Presiden dan istrinya dipagar, lalu digiring masuk ke istana. “Bagaimana ceritanya para tukang sapu itu bisa ada di depan istana? Bagaimana kalau mereka itu teroris yang menyamar sebagai tukang sapu? Lalu meledakkan bom di sini.Ah, malu aku sebagai Presiden!” kata Presiden, marah.

Komandan pasukan yang gagah mendadak layu. Tertunduk. “Mohon maaf...Pak Presiden. Mohon izin saya amankan mereka.” “Lanjutkan!” Komandan berlari ke luar istana seperti kucing. Gerakannya cepat sekali. “Amankan pintu gerbang, jangan sampai tukang sapu itu masuk,” perintah Komandan. “Siaappp!”jawab pasukan. Dan apa yang dikatakan Jumanta memang benar: Tidak mudah memasuki Istana Presiden.

Buktinya pintu gerbang dijaga puluhan tentara dan polisi, termasuk juga anjing-anjing yang kuat dan terlatih. Mendekati pintu gerbangnya saja berarti mati.Namun, ratusan tukang sapu tidak peduli. Mereka mulai mendekati pintu gerbang dan akan memasuki halaman Istana Presiden. “Jangan bergerak! Satu langkah lagi mendekati gerbang istana, saya tembak kalian! Anjing-anjing ini juga saya lepas dan pasti akan menggigit kalian hingga mati,” kata Komandan, dengan wajah angker.

Para tukang sapu tertawa. “Pak komandan. Kami bukan pemberontak. Kami ini hanya tukang sapu yang ingin membersihkan Istana Presiden. Itu saja. Kok pake ngancem-ngancem mau segala,” celetuk seorang tukang sapu. “Kalian jangan bikin masalah di sini.Masuk ke sini urusannya dengan negara. Lihat di istana ini tidak ada sampah.Apa mata kalian buta? Di sini memiliki petugas kebersihan yang dididik secara khusus. Sekarang kalian pulang.

Jika tidak kalian saya tembak.Ini perintah langsung dari Presiden!” bentak komandan. Kembali para tukang sapu tak peduli. Sebab, dalam penglihatan mereka di istana itu banyak tumpukan sampah. Tidak hanya di halaman, juga di dalamnya. Sampahsampah di halaman dan di luar istana itu di mata mereka sudah membusuk. Jika tidak dibersihkan, Presiden dan istrinya akan terkena penyakit dan bahkan mengancam jiwa mereka berdua.

“Presiden harus segera ditolong dengan cara istananya dibersihkan dari sampah,” teriak salah seorang tukang sapu. “Kalau tidak presiden bisa mati!” timpal yang lain. “Jumanta ayo maju….Maju! Para petugas mohon izin,membersihkan istana presiden termasuk juga WC-nya, sudah menjadi keinginan sapu yang kita miliki masingmasing,” kata Jumanta yang tibatiba memiliki keberanian setelah mendengar bisikan dari sapunya.

Mendengar kalimat itu para petugas itu tertawa. Jumanta memberi aba-aba kepada para tukang sapu agar mendobrak barikade. Saling dorong terjadi antara tukang sapu dan pasukan, layaknya aksi unjuk rasa mahasiswa. Di tengah-tengah suasana yang tegang,Presiden dan istrinya keluar. Mereka mendekati pintu gerbang. “Sudah buka saja pintu gerbangnya.

Kalau kalian mau menyapu halaman istana ini silakan,”kata Presiden. Tanpa banyak bicara, para tukang sapu segera membersihkan seluruh halaman Istana,dari mulai depan, pinggir, dan belakang halaman. Sampah dikumpulkan, lalu dimasukkan ke dalam truk pengangkut sampah. Presiden memandang takjub cara kerja tukang sapu yang gesit dan cekatan. Hanya dalam hitungan detik istana sudah betul-betul bersih dari sampah. “Jum, halaman Istana Presiden sudah bersih.

Tak ada secuil sampah pun sekarang. Sekarang pimpin anak buahmu untuk membersihkan di dalam Istana Presiden. Ingat,kamar tidur dan WC-nya pun harus dibersihkan,” kata sapu Jumanta. Jumanta ragu. Namun, sebelum Jumanta memberikan aba-aba, ratusan tukang sapu sudah berhamburan memasuki Istana Presiden.

Mereka membersihkan ruang tamu, ruang makan, kamar mandi dan WC-nya,kamar tidur,dan seluruh isi yang ada di dalam istana, termasuk lemari pakaian dan meja kerja Presiden. Anehnya bola mata Presiden melihat para tukang sapu itu tengah mengobrak-abrik ruangan istana.

Presiden kalap dan khawatir seluruh berkas rahasia kenegaraan menjadi rusak. Dengan tatapan mata liar dan tubuh yang kaku, Presiden segera memerintahkan tembak di tempat kepada pasukan istana kepresidenan. Ratusan tukang sapu akhirnya mati sambil memegang gagang sapu masing-masing.