Siap Menaklukkan Everest di Usia 13 Tahun

Siap Menaklukkan Everest di Usia 13 Tahun

Pada postingan sebelumnya di Standardisasi's Blog membahas tentang Syahril Djohan, dan kali ini Standardisasi's Blog akan membahas tentang Siap Menaklukkan Everest di Usia 13 Tahun. Menurut informasi yang saya dapatkan dari mesin pencari google bahwa Jordan Romero siap menaklukkan puncak tertinggi di dunia, Everest. Jika berhasil, dia akan menjadi pendaki Everest termuda sedunia.

Kemarin , tim Romero berangkat ke Nepal. Bukan hanya perlengkapan yang dipersiapkan, tetapi juga kemantapan hati. Siapkah Romero?  Saya siap. Saya selalu siap, katanya yakin. Pendakian Everest akan menyempurnakan petualangan alam bebas Romero.

Dia sudah menaklukkan enam dari Tujuh Puncak Dunia (Seven Summits). Banyak yang memuji ketangguhan remaja berusia 13 tahun ini. Kekuatan tubuhnya dianggap sebagai berkah dari dewa gunung. Namun, Romero tidak mau lengah terhadap apa pun yang dikatakan orang tentang dirinya. Dia hanya ingin dekat dengan alam. Tidak ada target apa pun, termasuk jika nanti dia dikukuhkan menjadi pendaki termuda sedunia. Dia hanya tidak sabar mendarat di Nepal, kawasan yang kerap disebut Atap Dunia, dan melihat kekokohan pegunungan Himalaya. Romero ingin menyapa Pegunungan Himalaya dari dekat. Puncak Everest terlihat indah dari kejauhan, tetapi semakin liar saat didekati. Romero paham konsekuensi mendaki Everest yang tak pernah berhenti memakan korban.

Dia mengerti, setiap pendakian butuh perhitungan yang cermat. Bukan hanya pendakian, saya rasa. Setiap kali membuat keputusan tentang apa pun, kita harus membuat perhitungan yang cermat, seperti halnya Kisah si Penunggang Naga, papar si anak tunggal ini. Romero berhasil menjejakkan kaki di enam puncak tertinggi dunia selama empat tahun terakhir. Pendakian pertama dimulai 22 Juli 2006. Saat itu usianya baru sembilan tahun. Dia mendaki lereng terjal dan melintasi daerah penuh pasir dan bebatuan didampingi sang ayah, Paul, dan ibu tirinya, Karen Lundgren. Paul adalah sosok di balik kesuksesan pendakian Romero. Pria yang masih terlihat muda ini yang mengenalkan aktivitas alam bebas kepada Romero. Dia kerap mengajak Romero memancing, menyelam, dan tentunya mendaki gunung.

Dia pun bangga saat melihat putranya berdiri di puncak Kibo, Gunung Kilimanjaro. Dia benar-benar tangguh, katanya memuji Romero. Pujian ini terdengar istimewa.Bayangkan saja, seorang bocah berumur sembilan tahun berhasil mencapai puncak setinggi 5.893 meter. Barangkali benar perkiraan orang, Romero mendapat berkah dari dewa gunung atau mungkin titisan dewa, tetapi tidak ada seorang pun yang tahu. Paul hanya ingin rasional. Putranya adalah sosok yang tangguh, memiliki kemauan kuat dan mau mengambil risiko. Jawaban ini rasanya cukup untuk menjelaskan keberhasilan pendakian Romero. Setahun berikutnya, Romero, Paul,dan Karen kembali mengadakan pendakian. Pertengahan April 2007, mereka tiba di puncak Gunung Kosciuszko, Australia.

Musim liburan Juli 2007, Romero kembali mengunjungi kawasan pegunungan. Kali ini dia mendaki Gunung Elbrus yang berada di perbatasan Rusia-Georgia. Sama seperti pendakian Kilimanjaro, kali ini Romero juga berhasil mencapai puncak. Sebuah foto memperlihatkan Romero berada di puncak setinggi 5.642 meter ini. Dia tersenyum sambil memegang hiasan berbentuk bendera Amerika Serikat (AS). Petualangan bocah laki-laki asal California, AS ini tidak berhenti di puncak Elbrus. Akhir Desember 2007, dia menaklukkan puncak Aconcagua, Amerika Selatan. Puncak setinggi 6.962 meter ini berada dalam barisan pegunungan Andes. Penaklukan berikutnya terlaksana pada pertengahan Juni 2008. Puncak manakah yang dipilih Romero kali ini? Dalam masa liburan sekolah itu, tim Romero terbang ke Gunung McKinley, Alaska.

Setahun kemudian, tepatnya 1 September 2009, dia terbang ke Indonesia untuk menaklukkan Carstensz Pyramid di Papua. Bisa menaklukkan Tujuh Puncak Dunia adalah impian Romero. Semua berawal dari pengalaman sederhana. Saat berusia delapan tahun, Romero melihat mural yang menghiasi dinding di dekat sekolah. Romero langsung terpikat pada gambar memanjang yang berada di depannya. Dia kagum melihat gambar jajaran pegunungan yang ditampilkan lewat warna-warna cerah. Dia menamai jajaran gunung yang tergambar di sepanjang dinding. Dia menyebut sembarang nama karena tidak tahu mural itu merujuk pada gunung apa? Sesampainya di rumah, dia langsung mencari ibunya, Leigh Anne Drake. Saya ingin menghubungi ayah, katanya. Dia berbicara dengan Paul lewat sambungan telepon.

Dia bercerita tentang mural yang baru saja dilihatnya. Esoknya, Paul menjemput Romero ke sekolah. Mereka berjalan berdua menuju lokasi mural. Itu dia, kata Romero sambil menunjuk mural misteriusnya. Paul memperhatikan mural. Dia tersenyum, kemudian mengalihkan pandangan kepada Romero. Biar ayah jelaskan. Ini adalah Tujuh Puncak Dunia, kata Paul. Romero mendengarkan penjelasan Paul.Dia takjub atas sebutan Tujuh Puncak Dunia. Dia meminta Paul untuk mengajaknya ke Tujuh Puncak Dunia. Saya ingin ke gunung ini, ini, ini, dan semuanya, sahut Romero seraya menunjuk gambar gunung satu per satu. Romero mewarisi jiwa petualang Paul.Bedanya, Romero menekuni kegiatan pendakian pada usia yang lebih muda dibandingkan Paul.

Ibu Romero, Leigh juga mengakui persamaan di antara Paul dan Romero. Mereka selalu solid, kata Leigh tentang Paul dan Romero. Trio Romero sebentar lagi tiba di Nepal. Mereka sudah mempersiapkan serangkaian strategi pendakian. Kalaupun nantinya tidak berhasil mencapai puncak Everest, Romero tetap dikenang. Dia akan dikenang sebagai salah satu pendaki muda yang tangguh, berkemauan kuat dan berani mengambil risiko.